You are here
Home > SURIP

 

Surip Sastrapawiro atau Sastrasurip adalah Veteran TNI AD yang mengajukan pensiun dini  tahun 1950, setelah Jogja kermbali  dan berpangkat Sersan. Beliau tidak ingin melanjutkan karir di militer dengan melanjutkan Pendidikan di Cimahi namun lebih memilih berkarya sebagai Wiraswasta dengan mulai menyewa tempat di pingir Jalan C Simanjuntak Sekarang, dulu Jl Kaliurang 26.

Pada awalnya, Pensiunan TNI AD berpangkat Sersan ini, membuka sebuah bengkel untuk memperbaiki berbagai kendaraan dari Bromfiets atau Moped , yaitu kendaran bermotor roda dua paling besar 30 cc hingga kendaraan roda dua dengan kapasitas hingga 350 cc seperti BSA, AJS, Triumph, Ariel, Adler, Zundap, Java, Java CZ, Solex, Ducati, Bengkelnya dinamakan PIRUS yang tidak lain adalah kebalikan nama kecilnya yaitu SURIP. Karena bengkelnya semakin berkembang dan mulai dibantu oleh beberapa mekanik yang mulai belajar dibawah bimbingannya, Seara tidak langsung Veteran TNI AD ini mulai membuka pekerjaan setelah Clash II. Sastrasurip meninggal tahun 1998 pada usia 89 tahun dan dimakamkan di Makam Pejuang Kemerdekaan di Gamping serta menyerahkan PIRUS kepada penerusnya untuk melanjutkan mimpinya.

 

 

Surip kecil adalah anak tertua dari dua bersaudara dari keluarga miskin dan tinggal di Gowongan. Ibunya seorang Pembantu di keluarga Belanda yang tinggal disekitar jalan Mangkubumi sekarang dan ayahnya adalah seorang Kuli pengangkut barang di stasiun Tugu, dulu Mbalokan karena tempat penimbunan balok-balok kayu Jati yang diangkut oleh Belanda. Surip hanya mengenal Pendidikan Sekolah Rakyat 3 tahun, Namun tempaan masa kecil itu justru menempanya menjadi Surip yang tangguh. Cita-citanya sederhana yaitu ingin makan enak. Maka, dia mulai membantu belajar nyungging wayang kulit dan mulai melukis otodidak.

Melukis adalah sumber kehidupannya yang pertama dan dijual sampai ke Purworedjo dan Magelang dengan berjalan kaki ke orang-orang Belanda yang menyukai lukisannya. Lukisannya berkisar antara Pemandangan, Wayang, dan Kehidupan yang banyak disukai oleh orang Belanda. Banyak kisah tragis yang dialami dan diceritakan dalam perjalanan menjual lukisannya. Misal ketika menyeberangi Sungai Bogowonto yang banjir dan dibantu oleh Pak Lurah. Sampai kini, kita masih bisa melihat orang-orang yang mengadu nasib seperti Surip muda.

Ketika jaman Jepang dia masuk menjadi pegawai PLN dan menceritakan bagaimana kerasnya disiplin Jepang dan menyebabkan dia pernah ditampar beberapa kali oleh Jepang. Namun itu yang ikut membentuk pribadinya. Maka, ketika Jepang kesulitan fitting lampu dari Ebonit, Surip berpikir untuk mencoba membuatnya. Secara otodidak pula dia melakukan eksperimen dan akhirnya menemukan Kayu Jambu Khluthuk sebagai bahan dan kemudian digodog dengan parafin. Fitting lampu buatannya lolos tes perusahaan Listrik Jepang dan dia mulai menerima pesanan dan pindah ke Terban Utara dan karyawannya mencapai 100 orang pada saat itu. Lagi, dia membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

Ketika Jepang kalah Perang dan terjadi perang perebutan senjata di Jogja, dia mulai terlibat dengan para tentara Pelajar dan pada saat Clash II, Surip muda ikut bergerilya. Selama Pak Dirman berada di Jogja, Surip muda mengawal Dr Soetarto untuk merawat hingga ke Sanatorium Pakem. Juga ketika bergerilya di Playen Surip muda menciptakan alat pengisi battery untuk komunikasi radio dengan memanfaatkan dinamo mobil dan sepeda dari Lurah Playen. Karena dia sudah punya rumah di Terban maka ketika masuk ke Kota dia harus berpakaian rapi bersih agar tidak dicurigai Belanda. Puncak kesertaan Surip dalam tentara adalah Serangan Oemoem Satu Maret sebelum meminta pensiun dini. .

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Top