You are here
Home > SURIP > SWADESHI

Setelah pensiun sebagai Veteran TNI AD tahun 1953 Surip Sastrapawiro mulai melakukan eksperimen untuk membuat Bromfiet 30cc dengan melakukan 3N yaitu Niteni, Nirokke, Nambahi terhadap Bromfit Eropa yang dulu banyak dipakai oleh orang Belanda dan sering diperbaiki di Bengkel PIRUS miliknya. Inilah Bromfiet yang menginspirasi Surip Sastrapawiro untuk menciptakan Sepeda Motor 30cc pertama di Indonesia yang diberi nama SWADESHI.


SWADESHI adalah gerakan di India yang dimulai tahun 1921 oleh Mahatma Gandiji. Surip Sastrapawiro mengabadikan nama gerakan ini untuk menamai Sepeda Motor 30cc buatannya yang disemangati oleh semangat yang sama, yaitu BERDIKARI atau Berdiri Di atas Kaki Sendiri. 

Dengan peralatan yang sangat sederhana dan dilandasi oleh tempaan hidup keras masa lalu serta keahlian Melukis, Menyungging Wayang, dan aneka pekerjaan kasar yang dilalui serta semangat Veteran Pejuang Kemerdekaan, terwujudlah impiannya. Membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Bagi Surip Sastrapawiro, SWADESHI ciptaannya dianggap sebagai sebuah karya seni, karena dia pada dasarnya seorang seniman dan sungguh menikmati hasil karyanya. Disain SWADESHI itu sungguh-sungguh merupakan maestro seni dibandingkan dengan disain-disain Bromfiet Eropa yang ada di Yogyakarta pada saat itu. Detil disain yang merupakan identitasnya terlihat dalam Frame, Tangki bahan bakar, Saddle, dan telescope shock absorber pada jamannya, tahun 1956, hanya tiga tahun setelah dia pensiun. Bahkan keahlian dia menyungging wayang dia gunakan untuk membuat tutup block mesin dengan identitasnya SASTRA dan dikelilingi oleh nama PIRUS, BUATAN INDONESIA USAHA NASIONAL.

Dengan bangga, Surip Sastra menikmati hasil karyanya di depan Bengkel PIRUS dipinggir jalan Kaliurang atau jalan Simanjuntak sekarang. Lihat pakaian yang dikenakannya, dia konsisten dengan apa arti SWADESHI gerakan Mahatma Gandhij, dia selalau mengenakan Surjan dari Lurik Tenun ATBM Jogja dan Jarik juga tenun Jogja. Sebuah perlawanan yang tidak dipahami pada jamannya.  Membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin karena keuletan dan dasar keahlian.

Sebagaimana seorang seniman yang selalu tidak puas dengan hasil karyanya, Surip Sastrapawiro terus menyempurnakan karyanya.

Bahkan dia sudah menciptakan silencer untuk SWADESHI ciptaannya dan bisa dual artinya silencer bisa tidak diaktifkan sehingga suaranya lebih keras. Penampakan karyanya tahun 1960 an dan diabadikan hingga sekarang tampak seperti ini. Lihatlah perkembangan disainnya, lebih kelihatan stylish, lebih ergonomis. Sebagai seniman, sebuah karya seni itu unik, maka dia sangat menikmati hasil karyanya dan terus berkarya untuk mencipta.

Ketika peringatan 200 tahun Jogja, SWADESHI dipamerkan dalam stand Depertemen Perindustrrian dan Perdagangan disamping stand Kedutaan Besar Rusia. Swadeshi menjadi magnet para pengunjung di alun-alun utara. Bagaimana tidak, empat tahun setelah clash II dan Jogja Kembali, tiba-tiba dari Jogja muncul Bromfiet buatan Jogja, pertama di Indonesia. 
Selanjutnya, berita itu diketahui oleh Soekarno dan Swadeshi dipamerkan selama seminggu di Jakarta dibawah bendera Legiun Veteran Republik Indonesia dan dibantu oleh para Tentara Pelajar yang telah aktif dan dulu bersama bergerilya selama Clash II.

 

PIRUS DAN SURIP SASTRAPAWIRO DALAM BERITA

Top